Kamis, 09 Juni 2011

My lovely Ni-EDTA Complex

Senyawa kompleks, jika teringat senyawa itu pasti orang yang pernah membaca buku kimia akan teringat dengan aneka warna yang sangat menarik dan mungkin bagi orang yang awam kimia pasti komentarnya "ajaib" soalnya kok bisa sih larutan warna hijau dicampur dengan larutan bening bisa berubah warna jadi biru?Nah ini pengalaman menarik waktu saya memulai penelitian awal dari tesis saya tentang sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks Ni-EDTA, ini baru sebagian kecil dari banyak kecapekan yang telah saya lalui....
Ternyata hoby memasak dan skill memasak di dapur sangat bermanfaat saat kita melakukan sintesis di laboratorium..mind set saya saat di LAb adalah saya hendak memasak sayur lodeh favorit suami saya, jadi saya bisa menikmati setiap detil langkah dalam sintesis.
Inilah hasil penelitian saya yang merupakan bab awal dari pembahasan dalam tesis saya..selamat menikmati...

SINTESIS Ni-EDTA
Katalis senyawa kompleks Ni-EDTA disintesis melalui reaksi larutan NiCl2·6H2O dengan larutan H4EDTA (titriplex II). NiCl2·6H2O dilarutkan ke dalam air membentuk larutan berwarna hijau. Warna hijau yang muncul ini akibat dari kompleks heksaakuonikelat (II) atau [Ni(H2O)6]2+ seperti yang dilaporkan oleh Svehla (1990). Kemudian larutan tersebut dicampur dengan larutan H4EDTA yang jernih hingga terbentuk larutan berwarna biru. Pembentukan warna ini merupakan indikasi telah terbentuk senyawa kompleks Ni-EDTA. Senyawa kompleks Ni-EDTA terbentuk akibat substitusi ligan H2O oleh ligan EDTA. Fenomena ini juga didukung oleh pengamatan dengan spektrofotometer UV-VIS yang menunjukkan adanya perubahan panjang gelombang maksimum senyawa [Ni(H2O)6]2+ sebesar 658 nm menjadi senyawa kompleks Ni-EDTA yang mempunyai panjang gelombang maksimum 584 nm. Pergeseran kearah panjang gelombang yang lebih pendek seperti yang terlihat pada Gambar 4.1, dipengaruhi oleh adanya ligan EDTA yang merupakan ligan dengan medan kuat (Effendi, 2007). Penggantian ligan dengan medan lemah ke ligan dengan medan kuat memberikan energi ke atom pusat yang digunakan untuk promosi elektron sehingga sinar yang diserap panjang gelombangnya semakin pendek seperti yang dinyatakan oleh Sukardjo (1992).
   

Gambar 4.1.  Panjang Gelombang Maksimum Senyawa [Ni(H2O)6]2+ dan Senyawa Kompleks Ni-EDTA
 
Berdasarkan teori warna (Underwood, 2002), suatu senyawa yang berwarna akan menyerap energi pada panjang gelombang warna komplementer senyawanya. Secara visual, larutan senyawa kompleks berwarna biru, hal ini menunjukkan bahwa senyawa tersebut menyerap energi pada panjang gelombang warna komplementer biru yaitu warna kuning (580–595 nm).

PENENTUAN RUMUS SENYAWA KOMPLEKS
Jumlah ligan yang dapat diikat oleh logam pada suatu senyawa kompleks dapat diketahui melalui penentuan rumus senyawa kompleks dengan metode variasi kontinu (Sawyer, 1984). Hasil penentuan rumus senyawa kompleks menggunakan metode variasi kontinu disajikan pada Gambar 4.3.
Pada gambar diatas, jika ditarik suatu garis singgung dari sumbu X maka akan terdapat pertemuan antara dua garis singgung pada suatu titik yang menunjukkan fraksi mol EDTA sebesar 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan fraksi mol antara Ni2+ dan EDTA adalah sebesar 1 : 1 sehingga rumus senyawa kompleks yang terbentuk adalah [Ni(EDTA)]2- (Bhat, dkk., 1965). Menurut Effendy (2007), EDTA merupakan ligan heksadentat yang dapat menyumbangkan enam pasang elektron bebas kepada  ion logam sebagai atom pusat. Jika ion Ni2+ dengan konfigurasi elektron valensi 3d84s0 berinteraksi dengan ligan EDTA maka akan menghasilkan hibridisasi sp3d2. Oleh karena itu nikel (II) sebagai atom pusat akan mengikat satu molekul EDTA melalui ikatan koordinasi antara dua gugus amino dan empat gugus karboksilat terhadap atom pusat sehingga membentuk struktur senyawa kompleks oktahedral sebagaimana yang telah dilaporkan oleh Ogura, dkk (1976).
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar